BAHAN KIMIA UNTUK MENURUNKAN DAN MENAIKKAN pH.
Pertumbuhan tanaman pada budidaya hidroponik yang baik dapat dicapai bila air atau larutan
derajat asamnya, atau pH, berada antara pH 5,5 – 6,5, dengan optimal pH 6,0. Kisaran pH ialah
antara 0 hingga 14, dengan angka netral 7,0. Dibawah angka 7,0 disebut asam. Di atas angka
7,0 disebut basa atau alkalis.
Untuk menurunkan pH air diperlukan asam anorganis kuat, sedangkan untuk menaikkan
diperlukan basa atau alkali kuat.
Untuk menurunkan pH tidak dianjurkan menggunakan asam organis, misalnya cuka CH3COOH,
atau asam semut HCOOH, karena asam organis adalah asam lemah, yang diperlukan dalam
jumlah besar untuk menurunkan pH sedikit, jadi jatuhnya mahal. Lagi pula daya kerjanya tidak
lama, dalam beberapa jam pH sudah naik kembali, seolaholah
asam organis tersebut tidak
pernah ditambahkan.
Pilihan berkisar antara asamasam
anorganis kuat. Ambil contoh asam nitrat HNO3, yang
digunakan pada budidaya sayuran daun, mengingat unsur Nnya,
walau hanya sedikit, lumayan
dapat menyumbang untuk pertumbuhan sayuran daun. Asam fosfat H3PO4 digunakan pada
budidaya sayuran buah, mengingat unsur Pnya,
walau hanya sedikit, lumayan dapat
menyumbang untuk perkembangan generatif sayuran buah. Dapat pula menggunakan asam
sulfat H2SO4, yang dapat dibeli di pompa bensin SBPU, dalam botol plastik warna merah. Unsur
Snya,
walaupun hanya sedikit, lumayan untuk menunjang pembentukan protein.
Bahaya mengancam, misalnya uap asam nitrat, yang dapat membutakan mata. Untuk
mengurangi bahayanya, asam nitrat harus diencerkan menjadi hanya 10 %. Begitu pula dengan
asam fosfat. Baju bolong, kulit melepuh, kerongkongan kering, sering dialami pekerja yang
kecipratan atau menghirup uap asam kuat.
Senin, 25 Agustus 2014
PENTINGNYA PENGERTIAN MENGENAI pH DAN PEMILIKAN pH METER.
PENTINGNYA PENGERTIAN MENGENAI pH DAN PEMILIKAN pH METER.
pH digunakan untuk menggambarkan derajat keasaman suatu larutan, dan kisarannya adalah
dari angka 0 hingga 14, dengan angka 7 sebagai derajat asam yang netral. Pada titik itu, kation H
+ ada satu, dan di fihak lain anion OH – juga ada satu, sehingga muatan listriknya seri. Di bawah
angka 7, jumlah kation H + bertambah banyak semakin kita bergerak ke kiri, angka pH semakin
mengecil, dan dinamakan asam sekali. Di atas angka 7, jumlah anion OH – bertambah banyak,
semakin kita bergerak ke kanan, angka pH semakin membesar, dan dinamakan alkalis atau
basa sekali.
Biasanya kita berhidroponik dengan kisaran pH antara minimum 5,5 – maksimum 6,5, dengan
optimum 6,0. Di bawah pH 5,5 beberapa unsur mulai mengendap, tidak dapat diserap oleh akar,
menunjukkan gejala defisiensi unsur tertentu. Di atas pH 6,5, beberapa unsur mulai pula
mengendap, tidak dapat diserap oleh akar, menunjukkan gejala defisiensi unsur tertentu pula.
Sebaiknya kita berada pada pH optimum, di mana semua unsur berada dalam kelarutan yang
sempurna, semua unsur mudah diserap oleh akar, dan tidak akan terlihat gejala defisiensi unsur
yang manapun.
Kisaran tetap diperlukan, karena misalnya oleh peningkatan temperatur udara, maka pH larutan
akan naik, tetapi masih dapat diliput oleh kisaran tersebut. Apalagi kita selalu memasukkan
bahan kimia anorganis yang bersifat buffer, semisal MKP, monokalium
phosphat, KH2PO4,
yang dapat menstabilkan pH larutan, jadi bersifat basa dalam kondisi asam, dan bersifat asam
dalam kondisi basa. Semua unsur berada dalam keadaan larut sempurna, tidak akan
menunjukkan gejala defisiensi unsur hara manapun, sehingga produksi tinggi kuantitas dan
kualitasnya.
pH digunakan untuk menggambarkan derajat keasaman suatu larutan, dan kisarannya adalah
dari angka 0 hingga 14, dengan angka 7 sebagai derajat asam yang netral. Pada titik itu, kation H
+ ada satu, dan di fihak lain anion OH – juga ada satu, sehingga muatan listriknya seri. Di bawah
angka 7, jumlah kation H + bertambah banyak semakin kita bergerak ke kiri, angka pH semakin
mengecil, dan dinamakan asam sekali. Di atas angka 7, jumlah anion OH – bertambah banyak,
semakin kita bergerak ke kanan, angka pH semakin membesar, dan dinamakan alkalis atau
basa sekali.
Biasanya kita berhidroponik dengan kisaran pH antara minimum 5,5 – maksimum 6,5, dengan
optimum 6,0. Di bawah pH 5,5 beberapa unsur mulai mengendap, tidak dapat diserap oleh akar,
menunjukkan gejala defisiensi unsur tertentu. Di atas pH 6,5, beberapa unsur mulai pula
mengendap, tidak dapat diserap oleh akar, menunjukkan gejala defisiensi unsur tertentu pula.
Sebaiknya kita berada pada pH optimum, di mana semua unsur berada dalam kelarutan yang
sempurna, semua unsur mudah diserap oleh akar, dan tidak akan terlihat gejala defisiensi unsur
yang manapun.
Kisaran tetap diperlukan, karena misalnya oleh peningkatan temperatur udara, maka pH larutan
akan naik, tetapi masih dapat diliput oleh kisaran tersebut. Apalagi kita selalu memasukkan
bahan kimia anorganis yang bersifat buffer, semisal MKP, monokalium
phosphat, KH2PO4,
yang dapat menstabilkan pH larutan, jadi bersifat basa dalam kondisi asam, dan bersifat asam
dalam kondisi basa. Semua unsur berada dalam keadaan larut sempurna, tidak akan
menunjukkan gejala defisiensi unsur hara manapun, sehingga produksi tinggi kuantitas dan
kualitasnya.
KETRAMPILAN MENGGUNAKAN EC METER.
KETRAMPILAN MENGGUNAKAN EC METER.
Kalau menanam cabe merah besar dengan sistem hidroponik, maka digunakan petunjuk :
Persemaian : menggunakan EC 1,0 mS/cm. Fase vegetatif : EC 2,0 mS. Fase generatif : EC
3,0. (Cara menulis tanpa menyebutkan lagi satuannya, kawankawan
sudah dapat mengerti
kepekatan pupuk yang dimaksud).
EC meter bertenaga baterei kancing, bila sudah lama dan banyak dipakai, tenaganya berkurang,
menunjukkan angka secara “erratik”, naikturun
terus menerus, seolah tidak ada hentinya.
Baterei yang sudah lemah, harus diganti dengan yang segar.
Setelah membuka tutupnya, ujung EC meter dicelup ke dalam larutan yang akan diukur
kepekatannya, sedalam garis batas. Setelah selesai, hendaknya dioffkan
sesegera mungkin
untuk menghemat batereinya.
EC meter juga sangat berguna untuk mencegah kita melampaui nilai ambang phytotoksisitas,
misalnya bila kita melihat pada monitor, bahwa angka EC sudah sangat tinggi, sehingga besar
kemungkinan batas keracunan akan terlewati, maka dengan segera kita bisa bertindak
menurunkan kepekatan larutan pupuk. Terhindarlah kita dari gejala gosong pada tanaman,
karena EC yang terlampau tinggi itu.
Pun EC meter bisa dipakai untuk mensegerakan peralihan fase vegetatif ke generatif, dengan
menaikkan angka EC, tetapi tetap jangan nyerempetrempet
nilai ambang phytotoksisitas,
karena terkandung bahaya jatuhnya produksi.
Kalau menanam cabe merah besar dengan sistem hidroponik, maka digunakan petunjuk :
Persemaian : menggunakan EC 1,0 mS/cm. Fase vegetatif : EC 2,0 mS. Fase generatif : EC
3,0. (Cara menulis tanpa menyebutkan lagi satuannya, kawankawan
sudah dapat mengerti
kepekatan pupuk yang dimaksud).
EC meter bertenaga baterei kancing, bila sudah lama dan banyak dipakai, tenaganya berkurang,
menunjukkan angka secara “erratik”, naikturun
terus menerus, seolah tidak ada hentinya.
Baterei yang sudah lemah, harus diganti dengan yang segar.
Setelah membuka tutupnya, ujung EC meter dicelup ke dalam larutan yang akan diukur
kepekatannya, sedalam garis batas. Setelah selesai, hendaknya dioffkan
sesegera mungkin
untuk menghemat batereinya.
EC meter juga sangat berguna untuk mencegah kita melampaui nilai ambang phytotoksisitas,
misalnya bila kita melihat pada monitor, bahwa angka EC sudah sangat tinggi, sehingga besar
kemungkinan batas keracunan akan terlewati, maka dengan segera kita bisa bertindak
menurunkan kepekatan larutan pupuk. Terhindarlah kita dari gejala gosong pada tanaman,
karena EC yang terlampau tinggi itu.
Pun EC meter bisa dipakai untuk mensegerakan peralihan fase vegetatif ke generatif, dengan
menaikkan angka EC, tetapi tetap jangan nyerempetrempet
nilai ambang phytotoksisitas,
karena terkandung bahaya jatuhnya produksi.
MENGUKUR KEPEKATAN LARUTAN PUPUK HIDROPONIK
MENGUKUR KEPEKATAN LARUTAN PUPUK HIDROPONIK
Mengukur kepekatan larutan pupuk, dilakukan dengan mengukur pengantaran listrik di antara dua
kutub, yaitu Katoda dan Anoda, yang berjarak satu cm, dari suatu alat yang disebut EC meter,
Electro Conductivity meter, alat ukur pengantaran listrik. Satuannya ialah mS/cm, dituliskannya
m kecil, dan S besar, milli Siemens per cm, karena jarak katoda dan anoda ialah satu cm.
Beberapa pabrik menambahkan suatu alat kecil di dalamnya, yang membaca satuan
pengantaran listrik itu, mengkonversinya
untuk menjadi ppm (parts per million), pengukurannya
terhadap TDS, total dissolved solids, jumlah bahan padat yang terlarutkan. Penambahan alat
kecil ini tentunya meningkatkan biaya produksi sedikit.
Rumitnya ialah bahwa tiap pabrik memakai angka faktor konversi sendirisendiri,
dan tidak ada
yang mau mengalah untuk hanya memakai satu angka saja. Angka faktor konversi yang pernah
terlihat ialah 500, 630, 640, 650, 670, 700. Hal ini membingungkan, dan kadang menimbulkan
prasangka dan pertentangan, karena setiap pemakai bebas memakai angka konversi yang
diinginkannya. Saya pribadi memilih menggunakan EC, yang angka satuannya hanya semacam,
jadi tidak membingungkan.
Mengukur kepekatan larutan pupuk, dilakukan dengan mengukur pengantaran listrik di antara dua
kutub, yaitu Katoda dan Anoda, yang berjarak satu cm, dari suatu alat yang disebut EC meter,
Electro Conductivity meter, alat ukur pengantaran listrik. Satuannya ialah mS/cm, dituliskannya
m kecil, dan S besar, milli Siemens per cm, karena jarak katoda dan anoda ialah satu cm.
Beberapa pabrik menambahkan suatu alat kecil di dalamnya, yang membaca satuan
pengantaran listrik itu, mengkonversinya
untuk menjadi ppm (parts per million), pengukurannya
terhadap TDS, total dissolved solids, jumlah bahan padat yang terlarutkan. Penambahan alat
kecil ini tentunya meningkatkan biaya produksi sedikit.
Rumitnya ialah bahwa tiap pabrik memakai angka faktor konversi sendirisendiri,
dan tidak ada
yang mau mengalah untuk hanya memakai satu angka saja. Angka faktor konversi yang pernah
terlihat ialah 500, 630, 640, 650, 670, 700. Hal ini membingungkan, dan kadang menimbulkan
prasangka dan pertentangan, karena setiap pemakai bebas memakai angka konversi yang
diinginkannya. Saya pribadi memilih menggunakan EC, yang angka satuannya hanya semacam,
jadi tidak membingungkan.
PENTINGNYA NILAI AMBANG PHYTOTOKSISITAS TIAP JENIS TANAMA
PENTINGNYA NILAI AMBANG PHYTOTOKSISITAS
TIAP JENIS TANAMAN
Kita bernafsu untuk menggunakan EC yang tinggi untuk punjulnya produksi, kualitas, dan
penampilan hasil panen. Di lain fihak kita dihadang batas ambang keracunan tanaman,
phytotoksisitas,
yang sering muncul dalam bentuk “malformasi”, “ngaco”nya
bentuk tanaman
sehingga lain dari biasanya, gosong daunnya sebelah, terlalu lama berada dalam fase vegetatif
tanpa memperlihatkan akan beralihnya ke fase generatif, dsbnya.
Pada sayuran yang sukulen/berairbanyak,
misalnya Bayem, Caysim, Pakchoy, batasnya pada
budidaya hidroponik ialah EC 3,0 mS/cm. Jadi kita beroperasinya sampai
EC 2,5 saja. Bila
tibatiba
temperatur udara naik, realative humidity/kelembaban nisbah udara turun, tanaman
berkeringat dan menguap lebih banyak, sehingga EC larutan meningkat, ada “keleluasaan”
sebesar EC 0,5 untuk meredam gejolak EC, hingga terhindarlah tanaman dari keracunan.
Dilain fihak, perlu disadari bahwa bila kita menaikkan EC, maka semakin tinggi EC yang dicapai,
semakin berkuranglah efisiensi penyerapannya oleh tanaman, karena faktor jenuh kemudian
muncul. Hukum “Law of deminishing return” muncul, dan derajat pertumbuhan tanaman
mendekati stagnasi/mandek!
Memang akan aman, bila kita main di angka rendah, jauh dari nilai ambang phytotoksisitas,
tetapi tanaman tumbuhnya lambat, rasa dan aroma produk menurun, “shelflife”
pendek, berada
di fase vegetatif terlalu lama tanpa ada tandatanda
akan beralih ke fase generatif, dan sayuran
timbangannya enteng, sehingga usaha kurang menguntungkan.
TIAP JENIS TANAMAN
Kita bernafsu untuk menggunakan EC yang tinggi untuk punjulnya produksi, kualitas, dan
penampilan hasil panen. Di lain fihak kita dihadang batas ambang keracunan tanaman,
phytotoksisitas,
yang sering muncul dalam bentuk “malformasi”, “ngaco”nya
bentuk tanaman
sehingga lain dari biasanya, gosong daunnya sebelah, terlalu lama berada dalam fase vegetatif
tanpa memperlihatkan akan beralihnya ke fase generatif, dsbnya.
Pada sayuran yang sukulen/berairbanyak,
misalnya Bayem, Caysim, Pakchoy, batasnya pada
budidaya hidroponik ialah EC 3,0 mS/cm. Jadi kita beroperasinya sampai
EC 2,5 saja. Bila
tibatiba
temperatur udara naik, realative humidity/kelembaban nisbah udara turun, tanaman
berkeringat dan menguap lebih banyak, sehingga EC larutan meningkat, ada “keleluasaan”
sebesar EC 0,5 untuk meredam gejolak EC, hingga terhindarlah tanaman dari keracunan.
Dilain fihak, perlu disadari bahwa bila kita menaikkan EC, maka semakin tinggi EC yang dicapai,
semakin berkuranglah efisiensi penyerapannya oleh tanaman, karena faktor jenuh kemudian
muncul. Hukum “Law of deminishing return” muncul, dan derajat pertumbuhan tanaman
mendekati stagnasi/mandek!
Memang akan aman, bila kita main di angka rendah, jauh dari nilai ambang phytotoksisitas,
tetapi tanaman tumbuhnya lambat, rasa dan aroma produk menurun, “shelflife”
pendek, berada
di fase vegetatif terlalu lama tanpa ada tandatanda
akan beralih ke fase generatif, dan sayuran
timbangannya enteng, sehingga usaha kurang menguntungkan.
REKAYASA FORMULASI PUPUK HIDROPONIK KHAS TANAMAN TERTENTU.
REKAYASA FORMULASI PUPUK HIDROPONIK KHAS TANAMAN TERTENTU.
Ambil contoh tanaman tomat. Disamping persyaratan umum bahwa produksinya tinggi,
penampilannya baik, rasanya nikmat, diinginkan pula syarat tambahan seebagai berikut :
1. Bebas gejala BER (blossom end rot), gejala defisiensi kalsium, Ca. Disebabkan pasokan
Ca memang kurang, berat atom Ca yang memang tinggi, sehingga mobilitasnya payah,
tanaman kurang mempunyai “power”, karena selama seminggu intensitas cahaya
matahari rendah, “exposure time”nya
pendek, sehingga asimilasi karbohidratnya hanya
sekedarnya
2. Disyaratkan, tanaman tidak menunjukkan gejala serangan penyakit cendawan Alternaria,
Phytophthora, Fusarium, yang dapat menghancurkan produksi.
3. Karena jenis tomat ini adalah tomatbuah
dan bukan tomatsayur,
maka derajat
sweetness/kemanisannya
harus lebih menonjol dari derajat
accidityfreshness/
kesegarannya.
Untuk menjawab tantangan itu, maka kegiatan tambahan dalam meramu pupuk hidroponik AB
mix, adalah :
1. Meningkatkan kadar Ca > 150 ppm, sehingga BER dapat tercegah. Peran matahari
ditingkatkan untuk menambah energi bagi tanaman, supaya Ca dapat terangkat dan
terangkut ke pentil buah.
2. Meningkatkan kadar Ca > 150 ppm (seperti di atas), untuk memperkuat dinding sel,
supaya lebih toleran terhadap serangan penyakit cendawan. Disamping Ca, juga asupan
P ditingkatkan, untuk meningkatkan dan memperkuat “crude fiber”/serat kasarnya
pada
inding sel.
3. Manis disenafaskan dengan karbohidrat, dengan fotosintesa, dengan kesanggupan P
merubah gelombang cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk karbohidrat, gula yang
manis. Asupan hara P perlu ditingkatkan, dan paling cocok ialah dengan peningkatan
MKP, monokalium
phosphat, KH2PO4, di mana penambahan unsur K dapat membantu
perbaikan distribusi, transportasi dan penumpukan hasil asimilat.
Komentar selanjutnya adalah : Literatur luar negeri, entah mengapa, jarang berani membahas
interaksi antara pupuk/meramu pupuk, EC dengan angka yang besar, volume yang tinggi,
dengan pencegahan serangan penyakit cendawan. Interaksinya
kuat, sehingga dapat digunakan
untuk mengatasi banyak masalah yang ditimbulkan oleh penyakit cendawan.
Ambil contoh tanaman tomat. Disamping persyaratan umum bahwa produksinya tinggi,
penampilannya baik, rasanya nikmat, diinginkan pula syarat tambahan seebagai berikut :
1. Bebas gejala BER (blossom end rot), gejala defisiensi kalsium, Ca. Disebabkan pasokan
Ca memang kurang, berat atom Ca yang memang tinggi, sehingga mobilitasnya payah,
tanaman kurang mempunyai “power”, karena selama seminggu intensitas cahaya
matahari rendah, “exposure time”nya
pendek, sehingga asimilasi karbohidratnya hanya
sekedarnya
2. Disyaratkan, tanaman tidak menunjukkan gejala serangan penyakit cendawan Alternaria,
Phytophthora, Fusarium, yang dapat menghancurkan produksi.
3. Karena jenis tomat ini adalah tomatbuah
dan bukan tomatsayur,
maka derajat
sweetness/kemanisannya
harus lebih menonjol dari derajat
accidityfreshness/
kesegarannya.
Untuk menjawab tantangan itu, maka kegiatan tambahan dalam meramu pupuk hidroponik AB
mix, adalah :
1. Meningkatkan kadar Ca > 150 ppm, sehingga BER dapat tercegah. Peran matahari
ditingkatkan untuk menambah energi bagi tanaman, supaya Ca dapat terangkat dan
terangkut ke pentil buah.
2. Meningkatkan kadar Ca > 150 ppm (seperti di atas), untuk memperkuat dinding sel,
supaya lebih toleran terhadap serangan penyakit cendawan. Disamping Ca, juga asupan
P ditingkatkan, untuk meningkatkan dan memperkuat “crude fiber”/serat kasarnya
pada
inding sel.
3. Manis disenafaskan dengan karbohidrat, dengan fotosintesa, dengan kesanggupan P
merubah gelombang cahaya menjadi energi kimia dalam bentuk karbohidrat, gula yang
manis. Asupan hara P perlu ditingkatkan, dan paling cocok ialah dengan peningkatan
MKP, monokalium
phosphat, KH2PO4, di mana penambahan unsur K dapat membantu
perbaikan distribusi, transportasi dan penumpukan hasil asimilat.
Komentar selanjutnya adalah : Literatur luar negeri, entah mengapa, jarang berani membahas
interaksi antara pupuk/meramu pupuk, EC dengan angka yang besar, volume yang tinggi,
dengan pencegahan serangan penyakit cendawan. Interaksinya
kuat, sehingga dapat digunakan
untuk mengatasi banyak masalah yang ditimbulkan oleh penyakit cendawan.
FORMULA PUPUK HIDROPONIK UNTUK TIAP GROUP TANAMAN
FORMULA PUPUK HIDROPONIK UNTUK TIAP GROUP TANAMAN
Diyakini formula pupuk untuk tanaman yang dibudidayakan untuk mendapatkan hasil panen
berupa daun, misalnya bayam, akan berbeda dengan formula untuk tanaman dengan hasil
panen berupa buah, misalnya tomat.
Kalau dibulakbalik,
akan mendapatkan hasil yang mengecewakan. Bila pupuk bayam digunakan
pada tanaman tomat, maka akan tercipta daun tomat yang panjang dan lebar, melengkung
karena beratnya yang besar. Tetapi mana bunga, pentil, dan buah tomatnya? Terbukti tanaman
terus menerus tumbuh secara vegetatif, dan tidak ada tandatanda
beralih ke fase generatif.
Sebaliknya menanam bayam dengan pupuk khusus tomat, maka akan menghasilkan tanaman
yang serba pendek dan kompak, kecilkecil
sudah mulai berbunga, dan daun yang diharapkan
hijau rimbun, terbukti tidak banyak terlihat.
Tidak terlampau sulit untuk mengatur perumusan formula pupuk hidroponik, bila kita kuasai
fisiologi tumbuhan. Tentunya beberapa ilmu dan ketrampilan lainnya harus diketahui pula,
terutama kimia anorganis. Untuk memudahkan kerja, maka tanaman yang dihidroponikkan dibagi
dalam 5 gugusan, yaitu :
1. Sayuran daun : Bayam, Caysim, dsbnya.
2. Sayuran daun dan batang : Kangkung, Kailan, dsbnya.
3. Sayuran bunga : Brocolli, Bloemkool, dsbnya.
4. Sayuran buah : Tomat, Cabai, dsbnya, dimasukkan juga Melon.
5. Sayuran umbi : Biet, Radish dsbnya.
Formula untuk no.1, tidak banyak berbeda dengan no. 2. Formula no. 3, tidak banyak berbeda
dengan no. 4. Masingmasing
jenis tanaman dapat pula dibuatkan formula khas untuk jenis
tanaman tersebut saja.
Diyakini formula pupuk untuk tanaman yang dibudidayakan untuk mendapatkan hasil panen
berupa daun, misalnya bayam, akan berbeda dengan formula untuk tanaman dengan hasil
panen berupa buah, misalnya tomat.
Kalau dibulakbalik,
akan mendapatkan hasil yang mengecewakan. Bila pupuk bayam digunakan
pada tanaman tomat, maka akan tercipta daun tomat yang panjang dan lebar, melengkung
karena beratnya yang besar. Tetapi mana bunga, pentil, dan buah tomatnya? Terbukti tanaman
terus menerus tumbuh secara vegetatif, dan tidak ada tandatanda
beralih ke fase generatif.
Sebaliknya menanam bayam dengan pupuk khusus tomat, maka akan menghasilkan tanaman
yang serba pendek dan kompak, kecilkecil
sudah mulai berbunga, dan daun yang diharapkan
hijau rimbun, terbukti tidak banyak terlihat.
Tidak terlampau sulit untuk mengatur perumusan formula pupuk hidroponik, bila kita kuasai
fisiologi tumbuhan. Tentunya beberapa ilmu dan ketrampilan lainnya harus diketahui pula,
terutama kimia anorganis. Untuk memudahkan kerja, maka tanaman yang dihidroponikkan dibagi
dalam 5 gugusan, yaitu :
1. Sayuran daun : Bayam, Caysim, dsbnya.
2. Sayuran daun dan batang : Kangkung, Kailan, dsbnya.
3. Sayuran bunga : Brocolli, Bloemkool, dsbnya.
4. Sayuran buah : Tomat, Cabai, dsbnya, dimasukkan juga Melon.
5. Sayuran umbi : Biet, Radish dsbnya.
Formula untuk no.1, tidak banyak berbeda dengan no. 2. Formula no. 3, tidak banyak berbeda
dengan no. 4. Masingmasing
jenis tanaman dapat pula dibuatkan formula khas untuk jenis
tanaman tersebut saja.
Langganan:
Postingan (Atom)